Laman

selamat datang

SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU DI KOTA SURABAYA TAHUN 2018

Senin, 13 Maret 2017

Menjinakan Korupsi,Politisi Biasa, Siapa Pelakunya?


Para politisi itu pandai berkata-kata, mereka mengambarkan situasi negara itu seperti ini dan itu, bahkan kadang mereka harus mencucurkan air mata di mimbar politik tentang sejumlah persoalan sosial dan ekonomi yang melilit rakyat. Namun, akhirnya tidak sedikitpun juga mereka yang harus mengenakan rompi oranye bertulisan “ Tahanan KPK” karena persoalan akhlak dan moralitas. Juba republik ini memang terus dirobek-robek oleh para anak bangsa ini sendiri, yang sedang berkuasa.

Para penegak hukumpun lemah moral dan harga dirinya, dan tidak puas akan kehidupan ekonominya, dengan muda masuk dalam perangkap mafia. Mereka menjadi kaki tangan bos mafia demi sejumlah imbalan ekonomi. Sebagai balasannya, mereka sangat loyal dan patuh. Mereka dapat melakukan apa saja untuk kepetingan bos mafia, termasuk berbohong kepada publik, menutupi-nutupi kejahatan, memutarbalikan logika hukum dan moralitas, bahkan membocorkan rahasia negara. Hal yang sama, pinjam dari kutipan Yongky Karman dalam buku Republik Galau, bahwa “korupsi memihak yang bayar, bukan yang benar, bukan yang sesuai prosedur”.

Kualitas para aktivis partai politik ternoda dengan kelakukan busuk mereka yang korup. Partai politik telah gagal mempersiapkan kader yang bermoral dan berintegritas. Pinjam dari kata Max Weber memberikan istilah politic as vocation (politik sebagai pekerjaan). Istilah ini sangat tepat digunakan untuk memotret para politisi yang menjadikan dunia politik sebagai arena bisnis semata untuk kepentingan mereka dan masa depan. Tidak tahu harga diri jika dia sebagai wakil rakyat yang mengurus nasib rakyat. Korup ditangkap malah tertawa, di wawancarai dan ditanya (gaya seperti orang biasa) sekalipun memakai pakain rupublik rompi oranye. Ini penyakit politisi busuk.

Korupsi seperti binatang liar yang memangsa orang jujur dalam suatu sistem korup. Pelakunya tidak hanya pegawai kecil yang terimpit kebutuhan, tetapi juga mereka yang serakah. Korupsi tak peduli jika bangsa masih tersandera kemiskinan. Ia menggerogoti kemampuan negara melindungi dan mensejahtrakan rakyat. Kasus tenaga kerja Indonesia yang selama puluhan tahun tanpa jaminan perlindungan terstruktur merupakan buah sistem pemerintahan yang korup. Rakyat kecil korban terparah dan terancam.

Pemberantasan korupsi di Indonesia seperti jinak-jinak merpati. Hukuman koruptor biasa saja. Mereka diperlakukan terhormat, tak mengenankan baju tahanan, memperoleh banyak kemudahan di penjara. Perang melawan korupsi sebagian besar hanya politik pecintraan penguasa dari realitas politik Indonesia baru. Betapa jalannya institusi penegakan hukum memasang iklan di surat kabar untuk meyakinkan publik bahwa reformasi birokrasi terjadi dilingkungannya.

Penguasa dan elit politik ambigu untuk memerangi korupsi habis-habisan. Pasalnya korupsi medukung penguasa. Pembangunan tetap jalan. Investasi asing dan para kapital tetap masuk. Dengan alasan gaji rendah, korupsi ikut mengerakan mesin birokrasi. Padahal, korupsi merayakan anarki aturan. Mereka tak lagi leluasa memanfaatkan sumber keuangan dengan cara yang koruptif. Satu per satu elit politik maupun kerabatnya terjerak tindak pidana korupsi. KPK yang masyarakat percayakan dan dipilih pun sebisanya bukan figur yang keras menerangi korupsi.

Faktor terpenting korupsi adalah moralitas dan intelektualitas pemimpin masyarakat. Di negara berkembang, ikatan tradisional masih kuat. Jadi, kita perlu dengan sengaja memunculkan keteladanan tokoh kharismatik dari yang masih hidup maupun wafat. Mereka memang tidak memengaruhi perubahan dari atas, tetapi jelas memang ini merupakan vitamin rohani yang memperkuat daya tahan tubuh bangsa dari serangan penyakit moral dan korupsi.

Agama pernah mencacat bahwa” cukupkanlah dirimu dan gayimu” (kutipan alkitab). Agama, seoalah capek mengurus manusia yang berintegritas. Berarti agama gagal mendidik dan menolong anak bangsa? Atau siapa salah? Politisi? Entalah? Jika seperti itu, agama hanya menjadi setia di mimbar (lalu diam) Bukankah? Agama cukup banyak menyampaikan, tentang hal baik dan benar. Ataukah kesadaran politisi? Yang sering merasa dan mengaku beragama (tapi tindakan seolah tidak beragama). Apa usaha agama tidak cukup? Tidaklah! Terus salah siapa? Saya! Kalau saya, hanya bisa mengingatkan lewat tulisan ini! “JANGAN KORUPSI”. Mari para politisi tetap menjaga kewarasan tanpa korup dalam mengabdi negara.

Oleh :
Maiton Gurik,S.Ikom

sumber : http://www.kompasiana.com/ufuk/menjinakan-korupsi-politisi-biasa-siapa-pelakunya


Rabu, 22 Februari 2017

Turnamen Noken Cup III Himapa Uwp



TURNAMEN NOKEN CUP KE III 2017
     Turnamen noken cup ke III merupakan program rutinitas UKM HIMAPA Unit Kegiatan Himpunan Mahasiswa Papua Universitas Wijaya Putra Surabaya,Yang mana sudah terlaksana pada tahun 2013 yaitu perdana kemudian pada tahun 2015 adalah kedua dan sekarang ini adalah Noken Cup III yang di program perioritaskan oleh UKM HIMAPA.Noken cup himapa uwp telah membuka pada tanggal 20-dengan secara simbolis Bapak H.Mulus Sugiharto,S.Sos;M.Si selaku biro kemahasiswaan Universitas Wijaya Putra Surabaya.
     Acara tersebut di mulai dari pada tanggal 20-23 Februari 2017 pekaksanaan turnamen tersebut pelaksanaan Acara berjalan lancer sesuai dengan di rencanakan oleh panitia dan seluruh angota himapa universitas wijaya putra Surabaya ,Ansusias seluruh pelajar dan mahasiswa papua se jawa timur terus mengembang tali persaudaraan dan kekompakan sehingga setiap tim yang sudah di daftar dalam turnamen noken cup III ini.
Tidak lelah semangatnya sehinga hari ketiga telah masuk  Final di mulai dari jam 15.00 waktu setempat dan jam 20-30 telah berahkir dan masuk dalam pembagian hadiah yang di dapatkan juara I,I,dan III,kemudian Putri juara I.II dan III Sedangkan pemain terbaik,dan juga Qiper terbaik,dengan hadiah yang sudah di sediakan oleh panitia pekasana noken cup III ini.
        Acara penutupan telah berahkiri dengan berbagai kesan dan pesan yaitu pertama yang di sampaikan oleh panitia pelaksana saudara Ruli Wenda,kemudian yang kedua ketua UKM Umum HIMAPA saudari Onesi Wenda,kemudian ketiga dari Pembina UKM HIMAPA Ibu Stolastika Elisabeth Igon S.Sos;M.Si yang di sampaikan bahwa acara noken cup himapa uwp terus meningkat tali persaudaraan ,dan trus mengembangkan potensi yang dimiliki,kemudian yang terakhir yang di sampaikan dari Alumni Himapa Uwp Bapak Orolius Kogoya,SP;MM di sampaikan bahwa UKM HIMAPA ini kami di bentuk untuk mengembang potensi non akademik,tali persaudaraan kami terus meningkat.
       Ucapan terima kasih kepada pihak lembaga yang telah memberikan izin dan memberikan sponsor sehinga kegiatan kami berjalan lancer dan juga seluruh alumni Himapa Uwp terus mendorong untuk mensukseskan kegiatan ini,dan juga seluruh tim yang sudah terdaftar dalam pertandingan baik menang maupun kalah.
Tak lupa kami sampaikan bahasa ibu: Wa.Wa.Wa.









Minggu, 15 Januari 2017

Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa-Tingkat Menegah (LKMM-TM) 2017



 

"TINGKATKAN KEMAMPUAN SOFTSKIL"
 Pada Tanggal 13-15 Januari 2017 telah pelaksanaan (LKMM-TM) yang di programkan oleh badan eksekutif mahasiswa universitas wijaya putra Surabaya yang di ikuti seluruh organisasi baik badan eksekutif mahasiswa fakultas,maupun Unit kegiatan mahasiswa (UKM) Dan Himpunan mahasiswa jurusan/Himpunan mahasiswa kelas pagi dan seluruh mahasiswa yang ada di lingkungan universitas wijaya putra Surabaya dengan tujuan Peningkatan kemampuan softskill mahasiswa dan hardskil,kegiatan tersebut di ikuti oleh mewakili seluruh ormawa perwakilan 3 orang yang mana satu adalah ketua umum kemudian kedua adalah wakil/sekertaris dan satu adalah perkaderan yaitu semester 1,SEMUA peserta yang ikut dalam kegiatan ini adalah 100 orang perwakilan dari ormawa masing masing yang ada di lingkungan universitas wijaya putra Surabaya.
     Seluruh peserta LKMM-TM yang ikut adalah tidak hanya ikut ini saja namun mereka sebelum ini sudah pernah ikut dalam kegiatan latihan keterampilan manajemen mahasiswa-tingkat dasar yang mana di program kan oleh bem-f atau seluruh ukm yang mereka ikuti kembali ditambahkan  dengan diadakannya Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM TM) 2017. Jenjang lanjutan dari serangkaian kegiatan LKMM-TM ini dilaksanakan selama 3 hari, mulai jumat (13/01) hingga Minggu (15/01) di villa pacet mojokerto-jawa timur .
     Jenjang kegiatan LKMM dimulai dari LKMM Pra-Tingkat Dasar (TD) yang di dalamnya berisi materi Manajemen Diri, kemudian LKMM Tingkat Dasar (TD) yang berisi materi Manajemen Kegiatan. Jenjang selanjutnya yaitu LKMM Tingkat Menengah (TM) tentang Manajemen Organisasi dan jenjang terakhir yaitu LKMM Tingkat Lanjut (TL) tentang manajemen opini publik.
       Rangkaian kegiatan LKMM TM terdiri dari materi wajib AKO (Analisa Kondisi Organisasi) dan RPO (Rancangan Pengembangan Organisasi) disertai materi-materi penunjang yang diberikan oleh pembicara-pembicara yang profesional. "Kegiatannya seru-seru, pemandu dan pembicaranya juga TOP, jadi termotivasi dan semangat", ungkap Despinus Waker, salah satu peserta LKMM TM .Hal ini didukung pula oleh koordinator pemandu LKMM TM BEM UWP 2017.LKMM ini diadakan selain untuk melanjutkan jenjang pelatihan juga sebagai bekal membangun organisasi di aktivitas non akademik. "Semoga segala materi yang telah diberikan dalam LKMM TM ini dapat bermanfaat tidak hanya untuk Mahasiswa Uwp tapi juga untuk masyarakat", harapnya.







 salam berorganisasi

Jumat, 06 Januari 2017

Berpolitik Harus Siap Menang dan Siap Kalah!

(Oleh: Maiton Gurik)
Penulis adalah Mahasiswa Asal Kab. Lanny Jaya-Papua dan sedang menempuh Studi S-2 Ilmu Politik di Universitas Nasional, Jakarta.
Menjelang pilkada serentak, banyak kandidat berikrar untuk berkompetensi secara adil. Mereka siap menang dan siap kalah. Ini bukti bahwa demokrasi sudah dipahami dan meresap ke dalam denyut jantung dinamika politik masyarakat kita. Semangat semacam ini harus dicontoh dan dipraktikkan oleh siapa saja. Bukan hanya kandidat atau elit politik yang akan bertarung dalam pilkada melainkan juga pendukungnya.
Dimasa yang lalu, kita sering menyaksikkan kekisruhan yang terjadi pasca-pilkada. Hal itu terjadi lantaran para kandidat tidak memilik kesiapan ‘mental’ yang cukup untuk memasuki pangung demokrasi dan mengikuti aturannya, termasuk menyiapkan mental siap menang dan siap kalah, begitu juga dengan pendukungnya. Mari kita runut secara sepintas kasus – kasus tersebut sebagai bahan pembelajaran.
Pada tahun 2012, kasus konflik pilkada Kabupaten Tolikara membuat banyak korban jiwa yang tak terhitung. Kabupaten Puncak Papua di tahun sama, juga terjadi konflik pilkada dengan korban masyarakat yang tidak kalah jumlahnya.
Dan masih banyak kasus  konflik pilkada yang saya tidak sebut satu persatu. Entalah, baik konflik fisik bahkan adminitrasi tak ujung berakhir bahkan sampai bawah kepada MK sebagai tempat terakhir mendamaikan konflik pilkada.
Konflik pilkada, Papua khususnya – membuat pemisah antara satu dengan yang lain. Hidup tadinya kolektif telah pupus. Luka konflik pun sulit untuk disembuh. Yang ada hanya kata ‘balas dendam”(moment pilkada berikutnya). Oh, Papua rupanya belum merdeka. Demokrasi hilang di tangan elit Papua. Kapan berakhirnya. Siapa yang akan mengakhirinya. Saya pun tidak tau. Entalah.
Kasus ini memberi pelajaran kepada kita semua bahwa ikrar ‘ siap menag dan siap kalah’ itu hendaknya tidak dianggap remeh. Sebab, dampaknya sangat serius dalam menimbulkan korban jiwa dan harta benda. Demokrasi memang ruang kebebasan. Benar. Tapi itu saja tidak cukup. Dalam mempraktikan demokrasi harus dengan etika politik. Yang didalamnya ada kewajiban, tanggungjawab dan sejenisnya.
Dalam konteks ini, semangat siap menang dan siap kalah merupakan pelaksanaan dari kebebasan positif. Artinya, pemenang lahir karena ada pihak yang mengakui kalah.Dengan begitu roda pemerintahan terus berputar.
Kesuksesan pilkada serentak tidak hanya tergantung pada pemerintah namun juga segenap warga masyarakat. Ia, tentu saja pemerintah bertanggunjawab persiapan dan pelaksanaanya. Sementara, setiap warga negara mengemban tanggungjawab moral untuk ikut mengawal. Jalannya pilkada secara kondusif sekalian aktif dalam pilkada ini.
Belajar dari kekurangan dan kesalahan masa lalu, generasi ini sudah akrab dengan berbagai artikulasi yang mendorong mereka untuk berpolitik secara lebih cerdas dan cermat. Mereka akan bertarung secara sportif karena ada tujuan yang lebih besar yaitu kesejahtraan rakyat. Yang juga menjadi tanggungjawab bersama (elit dan rakyat). Mengakui pihak lain sebagai pemenang merupakan suatu kehormatan bagi yang bersangkutan. Sebab kekalahan bukan suatu kehinaan.
Kalah dan menang adalah hal yang biasa dalam setiap perlombaan. Karena itu disikapi dan diterima secara santun dan wajar. Tidak mutlak-mutlakan. Hanya saja kemenangan dan kekalahan dalam pilkada memang peristiwa yang bersifak publik, diketahui oleh umum, sehingga disitu ada persoalan kehormatan dan harga diri.
Maka penting sekali di sini, pendidikan sosial tentang kalah-menang ini harus ditinjau ulang. Dalam budaya masyarakat kita modern ini, menang dan kalah itu diletakan dalam kerangka dikotomi. Menang itu kejayaan, prestasi dan kemulihaan. Dan sebaliknya kalah itu kebodohan, kerendahan, dan kehinaan bahkan caci-maki. Akibatnya, elit berlomba-lomba hanya untuk menang dengan menghalalkan cara agar tidak kalah. Bukannya kekalahan menjadi dorongan untuk bekerja lebih keras. Kemenangan menjadi motivasi untuk berkarya lebih baik. Parah!
Tantangan pertama bagi pemenang adalah menyikapi pihak yang kalah. Kemenangan tidak identik dengan pesta pora, euforia dan merendahkan pihak yang kalah. Justru melibatkan pihak yang kalah dalam kelompoknya. Sehingga, kemenangan itu menjadi kemenangan bersama. Bahkan pihak yang kalah pun merasa dimenangkan. Ini namanya baik hati dan tidak sombong!
Pilkada ini ajang adu nasib dan peruntungan melainkan tempat untuk meneyaring pemimpin yang berintegritas. Dengan begitu semua orang akan berpikir positif dan santun. Berpartipasi secara proaktif, dan orientasi pada kualitas lebih dari sekedar soal menang dan kalah.
Ahkirnya, pilkada serentak ini harus benar-benar kita kawal bersama. Sehingga, proses maupun hasilnya memiliki kualitas yang baik. Memang tidak mungkin sebuah proses dan hasilnya memuaskan semua pihak. Entalah, tapi itu kepentingan yang lebih besar, setiap orang dituntut memiliki kebesaran jiwa. Mari kita hindari sikap odsolut terhadap kepentingan pribadi maupun kelompok. Pilkada ini bukan segalanya. Pilkada hanya sebuah proses dalam kehidupan demokrasi.
Jika elit yang tidak puas dengan hasil sekarang, maka anda boleh maju lagi dimusim Pemilu mendatang. Pilkada ini seperti hanya dengan permainan, harus dibuat menyenangkan-namanya juga pesta demokrasi bukan persta pora. Semoga!

Selasa, 20 Desember 2016

Pameran Budaya Himpunan mahasiswa papua universitas wijaya putra surabaya

Foto Penerangan Api
"Bapak Rektor Kanan Wakil Tengah Biro Kemahasiswaan Kiri"
Organisasi merupakan sekelompok manusia yang saling bekerja sama untuk mencapai satu tujuan yang bersama.Untuk menumbuhkan organisasi menjadi berkembang memerlukan suatu kegiatan, dan dalam kegiatan membutuhkan suatu proses untuk menjalangkan membutuhkan suatu kerja sama dalam team. Dengan usia organisasinya semakin bertambah berkembang .
Namun dalam mengembangkan suatu organisasi tersebut perlu adanya suatu kegiatan untuk meningkatkan kualitas SDM. Yang mana kegiatan tersebut sebagai sarana untuk mengevaluasi dan melatih kemandirian calon pengurus organisasi sehingga mampu melanjutkan tongkat stafet kepemimpinan suatu organisasi agar lebih baik lagi dimasa yang akan mendatang.
UKM Himpunan Mahasiswa Papua (HIMAPA) merupakan Organisasi mahasiswa atau UKM yang bergerak dibawah naungan dari Universitas Wijaya Putra surabaya.Oleh sebab itu UKM HIMAPA saat ini mengadakan salah satu program kerja Unit Kegiatan Himpunan Mahasiswa Papua yaitu Pameran Budaya pada tahun 2015. Kami UKM Himapa Uwp, mengekspresikan“Pameran Budaya dengan (Demo masak tradisional pendalaman suku dani papua) pada Momennya Dies natalis Uwp yang Ke 34” Universitas wijaya putra Surabaya.
Kegiatan tersebut telah realisasikan pada tanggal 15 maret 2015,maka kami dari selaku panitia pelaksana bersama dengan Badan Pengurus Harian (BPH) UKM Himpunan Mahasiswa Papua Mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Bapak Ibu pimpinan lembaga Universitas Wijaya Putra Surabaya dengan alamat jalan raya benowo 1-3, yang selalu memberikan sponsorship untuk melaksanakan kegiatan yang di programkan oleh UKM HIMAPA dan juga selalu meberikan motivasi dan dorongan menuju arah kepemimpinan yang positif.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan seluruh ormawa yang ada di UWP baik Badan Eksekutif Mahasiswa/ Badan Eksekutif Fakultas dan seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa yang selalu kerjasama untuk mensukseskan kegiatan,dan juga kepada seluruh anggota UKM HIMAPA yang memberikan kontribusi, pikiran,tenaga,waktu,mentuangkan atas kegiatan pameran budaya dengan tema”Demo masak tradisional pendalaman suku dani papua”.
Atas dasar tersebut dan sebagai bentuk tanggungjawab kami terhadap organisasi dan seluruh elemen yang menaungi organisasi Himapa ini untuk itu kami panitia pelaksana mengucapkan banyak terima kasih kegiatan yang telah di selenggarakan oleh panitia pameran budaya Himpunan Mahasiswa Papua Universitas Wijaya Putra sursbaya tahun 2015/2016 dan diikuti seluruh sivitas akademisi lingkungan universitas wijaya putra Surabaya.




Sejarah Himpunan Mahasiswa Papua Universitas Wijaya Putra Surabaya

EMERLANGNYA HITAM PAPUA
Berkembangnya Universitas Wijaya Putra (UWP) membuat mahasiswa yang berasal dari tanah Papua semakin banyak. Dengan semakin banyaknya mahasiswa dari tanah Papua tersebut tercetus ide yang cemerlang seiring dibentuknya Himpunan Mahasiswa Papua (Himapa) UWP.  Pada hari Kamis tanggal 3 Oktober 2013 komunitas Himapa melakukan kegiatan pencerahan / sharing dengan Rektor UWP Budi Endarto, SH, MHum.

Motivasi, Optimalisasi Studi, Opportunity merupakan pencerahan yang disampaikan oleh Rektor UWP.  Motivasi adalah bagian yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Optimalisasi waktu studi merupakan elemen yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Dan terakhir opportunity yang harus diambil oleh mahasiswa.

Pentingnya sosialisasi atau interaksi dengan antara mahasiswa Papua dengan mahasiswa lainnya juga menjadi salah satu hal yang disampaikan oleh Rektor UWP.  Untuk menunjang meningkatkan kegiatan diatas maka Rektor UWP menyampaikan program-progam yang bisa digunakan dalam meningkatkan kreativitas mahasiswa Papua. 

Dalam kesempatan tersebut, juga dihadiri oleh sejumlah Alumni UWP yang berasal dari Papua, yang memberikan masukan konstruktif untuk pengembangan Himapa serta komitmennya mendukung seluruh agenda kegiatan Himapa baik di dalam maupun yang melibatkan mahasiswa dari luar UWP.


Senin, 19 Desember 2016

Diklat Ke III Himapa Uwp

ACARA DIKLAT KE-III HIMPUNAN MAHASISWA PAPUA UNIVERSITAS WIJAYA PUTRA SURABAYA 
Mahasiswa Papua di Universitas Wijaya Putra Surabaya yang direalisasikan dalam kegiatan pelaksana diklat tahun 2015/2016, diklat ini merupakan kegiatan kampus rutinitas setiap tahun yang di adakan oleh seluruh organisasi baik dari bem fakultas maupun seluruh ukm yangt ada di lingkungan universitas wijaya putra Surabaya dengan tujuan untuk membentuk tali persaudaraan dan dan melatih diri perkaderan tongkat kepemimpinan himapa kedepan ,dan juga untuk memberikan arahan, pengenalan lingkungan, motivasi dan saling memperkenalkan diri mereka.
Hal-hal tersebut juga mempunyai sasaran dalam membentuk para mahasiswa sebagai makhluk sosial dimana manusia tidak dapat hidup seorang diri serta membentuk mental mahasiswa sekuat kuatnya. Diharapkan dimasa yang akan datang dapat terbentuk kelompok intelektual, yang  tidak hanya giat menuntut ilmu dan mengasah otak tetapi juga senantiasa dapat memberikan dorongan dalam bidang keilmuan kepada masyarat luas.
Kengiatan ini terbentuk berdasarkan memotivasi Dengan Semangat Membangun Sinergi Dalam Organisasi melalui diklat Himpunan Mahasiswa Papua Universitas Wijaya Putra tahun 2015, kami sebagai mahasiswa dapat berpengalaman secara teori maupun praktek di luar kampus maupun dalam kampus dengan tujuan kegiatan diklat tersebut juga dapat memberikan semangat, dan kekompakan baik dalam dunia pendidikan secara internal maupun eksternal.
Kegiatan diklat pada tahun 2015 ini merupakan kegiatan ketiga di program prioritaskan oleh unit kegiatan mahasiswa papua universitas wijaya putra Surabaya,yang mana telah di selengarahkan perdana yaitu pada tahun 2013 kemudian diklat himapa kedua adalah pada tahun 2014,pada tahun 2014 itu di selengarahkan bersama unit kegiatan kerohanian Kristen (UKKK) di universitas wijaya putra Surabaya diselengarahkan di vila cemara pacet mojokerto.

Seminar Himapa Uwp 2014


Himpunan mahasiswa papua universitas wijaya puta Surabaya yang telah di selenggarahkan seminar dengan tema: SAATNYA MAHASISWA PAPUA BERSINAR,yang di program perioritaskan oleh ukm himapa yang mana saat ini seminar perdana yang di lakukan oleh ukm himapa masa kepengurusan saudara Endias Wenda,S.P
Mahasiswa sebagai generasi muda Indonesia yang merupakan bagian dari seluruh rakyat Indonesia dan sebagai kader bangsa yang datang dari jauh ujung Timur indonesia, selalu berusaha menempa diri dan mengembangkan potensi yang dimiliki agar dapat memberikan darma bakti kepada masyarakat,bangsa dan negara sesuai dengan Tri Dharma Perguruan TInggi dan Wawasan Almamater.
Sejak angkatan pertama Mahasiswa Papua di Universitas Wijaya Putra Surabaya sampai sekarang jumlahnya terus meningkat karena di kampus inilah kami Mahasiswa Papua berharap untuk meningkatkan Sumber daya manusia yang tangguh, mandiri, cerdas, ulet dan kreatif untuk kembali pulang membangaun Papua .
Maka dari itu, Mahasiswa Papua Universitas Wiajaya Putra Surabaya merasa perlu adanya suatu wadah yang menaungi semua aktivitasnya baik dalam Kampus,Komunitas Papua dan umum. Dengan adanya wadah tersebut. diharapkan Mahasiswa Papua Universitas Wijaya Putra Surabaya dapat membentuk mahasiswa yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan dirinya menjadi mahasiswa yang memiliki sikap kecendikiawanan, integritas pribadi, sikap kepemimpinan, rasa tanggungjawab kerakyatan dan memiliki kerja sama yang baik di dalam maupun di luar himpunan dan Kampus.
Dengan demikian pada tahun 2013 Organisasi Mahasiswa HIMAPA ini terbentuk dan  secara resmi menjadi salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan Universitas Wijaya Putra Surabaya. Hal ini menjadi suatu kebanggaan dan kemajuan bagi mahasiswa papua dalam perkembangan study di kota se-Jawa san Bali.